filosofi wayang dalam dakwah islam

Para wali, dinilai berhasil dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Hal ini tidak lepas dari metode dakwah yang dipakai kala itu. Sebagaimana cara-cara dakwah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw, ialah dengan cara memberi pidato dalam kelompok-kelompok, dipasar-pasar, mengunjungi rumah-rumah, memerintahkan sahabatnya berhijrah, mengirim utusan atau delegasi, dan lain-lain.

Wayang merupakan media yang tepat untuk melakukan dakwah Islam waktu itu. Wayang merupakan warisan leluhur, yang mampu bertahan dan berkembang berabad-abad. Dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai mencapai bentuknya yang sekarang ini. Wayang juga dikenal dan didukung oleh sebagian besar masyarakat jawa, yang memiliki corak yang bentuk yang khusus dan bermutu tinggi. Wayang digunakan karena itu adalah kesenian tradisional yang paling digemari oleh masyarakat pedesaan. Selain itu juga mempunyai peranan sebagai alat pendidikan serta komunikasi langsung dengan masyarakat yang dipandang dapat dimanfaatkan untuk penyiaran agama Islam.

Peyawangan mempunyai peran yang cukup besar dalam pengislaman di jawa,sebetulnya wayang sendiri merupakan peninggalan agama Hindu, namun para wali dapat berfikir rasional. Mereka sadar bahwa pertunjukan wayang telah berakar kuat di masyarakat dan tidak mungkin untuk dihilangkan begitu saja. Maka para wali, termasuk Sunan Kalijaga, pun mencapai kesimpulan untuk merubah, membesut, dan menyempurnakan wayang, lalu diisi dengan nilai budi luhur yang bernafas keIslaman.

Sebagai pewayangan dan walisongo, sunan Kalijaga dinilai berhasil dalam berdakwah melalui media wayang. Unsur baru berupa ajaran Islam dimasukkan dalam unsur pewayangan. Hal ini dilakukan agar masyarakat yang menonton dapat menerima ajaran islam dengan sukarela dan mudah.

Salah satu cara jitu untuk mengambil hati masyarakat adalah dengan mempersonifikasikan atau memanusiakan tokoh-tokoh “Pandawa Lima” dalam cerita Mahabharata dari India. Tokoh seperti Puntadewa dilambangkan sebagai syahadat, Bima atau Bayuputra sebagai Shalat, Arjuna atau Janoko sebagai puasa, Nakula-Sadewa sebagai zakat dan Haji. Berikut ini adalah penjelasanannya:

  1. Yudhistira atau Puntadewa

Tokoh pertama dari Pandawa ini dilambangkan sebagai kalimat Syahadah, atau Syahadatain. Yudhistira atau Puntadewa atau Samiaji adalah Saudara (anak sulung) dari Pandawa, karena kalimat Syahadat merupakan rukun Islam yang pertama. Dalam cerita wayang, dia mempunyai sifat berbudi luhur dan penuh kewibawaan karena sebagai raja sudah seharusnya seperti itu. Dalam hal ini, Syahadat juga seperti raja karena ini yang pertama kali dilakukan dalam menjalani ajaran Islam. Dalam pewayangan, Puntadewa memimpin empat orang saudaranya dalam keadaan yang bermacam-macam. Demikian pula kalimat Syahadat sebagai rajanya rukun-rukun Islam lainnya, karena biarpun seseorang menjalankan Rukun Islam yang kedua, ketiga, keempat dan kelima, namun apabila tidak menjalankan Rukun Islam yang pertama maka semua amalnya akan sia-sia belaka.Bahkan, oleh agama Islam akan dipandang sebagai perbuatan munafik. Selain itu, selama memiliki jimat “kalima sada” (Kalimah Syahadat atau Syahadatain : Lailahaillallah Muhammadarrasulullah), yaitu sebuah kalimat utama dalam agama islam, Puntadewa tidak pernah mati. Kalimah Syahadat berisi pengakuan tentang adanya Tuhan yang Maha Tunggal, serta Nabi Muhammad sabagai utusan-Nya.

  1. Bima atau Werkudara

Tokoh kedua dari Pandawa ini dilambangkan sebagai shalat lima waktu. Shalat lima waktu adalah rukun Islam yang kedua, ini sesuai karena bima adalah pandawa nomor dua. Dalam kisah pewayangan, tokoh tersebut dikenal juga dengan penegak pandawa. Ia hanya dapat berdiri saja, karena memang tidak dapat duduk, tidur dan memejamkan mata pun, konon sambil berdiri pula. Begitu juga dengan, Shalat lima waktu yang harus ditegakkan. Baginya terpikul tugas penegak agama Islam dan Shalat adalah tiang dari agama. Bima adalah ksatria pandawa yang paling berani dan gagah perkasa dengan aji kesaktiannya yang terdapat di lengannya yaitu, Aji Pancanaka yang berarti Lima kekuatan yang selalu dipegangnya dengan kuat. Ini merupakan symbol atau lambang bahwa apabila Sholat lima waktu dilaksanakan dengan baik penuh keyakinan dan ketekunan yang mendalam akan memiliki kekuatan yang besar yang mampu mengalahkan segala tantangan baik secara badaniah maupun rohaniah. Selain itu, Bima digambarakan selalu siap dengan senjata pamungkasnya yaitu Kuku Pancakenaka yang diartikan sholat lima waktu haruslah ditegakkan dalam keadaan apapun. Oleh karena itu, julukan Ksatria Penegak ini merefleksikan ibadah Sholat sebagai Tiang Agama atau Penegak Agama.

  1. Arjuna

Tokoh tokoh ketiga dari Pandawa Lima ini dilambangkan sebagai puasa, yang menjadi rukun Islam yang empat. Ia disebut dengan “lelananging jagad” yang berarti lelaki pilihan. Nama Arjuna diambil dari kata “jun” yang berarti jambangan. Benda ini merupakan simbol jiwa yang jernih, memang tepat dikatakan demikian sebab Arjuna memiliki ciri-ciri tersebut.Banyak wanita yang tergila-gila kepadanya karena ketampanannya, sehingga dia digandrungi banyak wanita. Hampir sama dengan orang berpuasa, godaan hawa nafsu banyak sekali. Bilamana tidak kuat menahannya, pasti akan tembus dinding pertahanannya. Selain itu dalam setiap peperangan yang dialami, Arjuna boleh dikatakan selalu unggul tak terkalahkan. Ini merupakan perlambangan bahwa orang yang berpuasa adalah orang yang kuat dan tidak goyah imannya. Dalam cerita kepahlawanan Pandawa, Wrekudara dan Arjuna paling menonjol perananya, satu terhadap lainnya sangat memerlukan hingga menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan. Maka demikian pun salat lima waktu dan puasa merupakan dua Rukun Islam yang tak terpisahkan.

  1. Nakula-Sadewa

Tokoh keempat dan kelima yang merupakan anak kembar ini dilambangkan sebagai zakat dan haji yang menjadi Rukun Islam yang ketiga dan kelima. Dalam pewayangan, kedua tokoh ini tampil pada saat tertentu saja, demikian juga dengan zakat dan haji tidak setiap hari dikerjakan, hanya dalam waktu-waktu tertentu, misalnya setiap satu tahun sekali dalam bulan Ramadhan untuk zakat dan dalam bulan-bulan Dzulhijjah, sekali dalam setahun untuk melaksanakan ibadah Haji di Mekah. Memanglah demikian, zakat dan haji lahir pada bulan-bulan tertentu (Ramadhan dan Dzulhijjah), tidak demikian halnya dengan tiga rukun Islam yang lebih dulu, yang lahir setiap saat setiap hari. Di samping itu penampilan mereka mewah, rapih dan berpakaian bagus dan bersifat dermawan. Ini menggambarkan seperti orang kaya atau mempunyai uang yang wajib mengeluarkan zakat dan pergi haji.

Kesimpulannya, wayang dan tokoh-tokohnya mengandung nilai filosofis-filosofis keislaman karena pengaruh para walisongo dalam menyebarkan agama islam. Para walisongo, terutama Sunan Kalijaga menggunakan wayang karena wayang sudah menyatu di masyarakat (tidak terpisahkan).

Diterbitkan oleh hamzahrozid

urip iku urup

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai